Al Qur’an Tertua

Pada tahun 644M, Utsman bin Affan diangkat menjadi khalifah bagi kaum Muslimin.   Inilah khalifah terakhir yang termasuk dalam Khulafaur Rasyidin.  Pada masa beliau penyebaran Islam telah jauh keluar dari semenanjung Arabia, di barat Islam telah menyebar hingga Maroko, di timur Islam telah menyebar hingga India dan di utara Islam telah menyebar hingga pegunungan Kaukasus (daerah Armenia dan Azerbaidjan sekarang).

Untuk pertama kalinya, mayoritas kaum Muslimin adalah orang-orang yang berbahasa ibu bukan bahasa Arab.  Kaum Muslimin sekarang bukan hanya berbahasa Arab tetapi juga berbahasa Persia, Turki, Urdu, Berber, Hindi dan lain sebagainya.  Bahkan dalam masa khalifah Utsman, utusan beliau telah berkunjung hingga ke hadapan Kaisar Cina.

Luasnya wilayah pemerintahan dan keragaman masyarakat yang luarbiasa mendatangkan berbagai tantangan baru, salah satunya adalah menjaga standardisasi Al Qur’an.  Di masa sebelumnya, seperti kita ketahui, Al Qur’an telah dikumpulkan oleh para juru tulis Rasulullah, istri-istri beliau dan para sahabat.  Al Qur’an kemudian dibukukan segera setelah Rasulullah wafat dan disimpan oleh khalifah (dalam hal ini Abu Bakar sebagai khalifah pertama), istri-istri Rasulullah dan para juru tulis.  Selain itu Al Qur’an juga tersimpan dalam pikiran para sahabat karena banyak para sahabat adalah penghafal Al Qur’an.  Ketika itu wilayah kaum Muslimin belum luas, masyarakatnya relatif homogen yaitu mayoritas adalah bangsa Arab dan bertebarannya para sahabat utama Rasulullah dan para penghafal Al Qur’an sehingga aturan rinci mengenai cara baca dan penyalinan Al Qur’an belum dirasa perlu.  Sedikit saja ada yang berbeda dalam cara baca ataupun penyalinan, akan segera diketahui dan diperbaiki oleh para sahabat lebih-lebih oleh para penghafal Al Qur’an.

Pada masa khalifah Utsman, wilayah kaum Muslimin telah sedemikian luas dan masyarakatnya semakin heterogen sehingga kondisi seperti masa khalifah Abu Bakar tidak lagi ada di sebagian besar wilayah kaum Muslimin.  Al Qur’an sekarang tersebar di tengah masyarakat yang bukan berbahasa ibu bahasa Arab, bahkan banyak yang tidak paham bahasa Arab sama sekali.  Masyarakat tersebut banyak yang baru masuk Islam sehingga belum banyak yang benar-benar paham mengenai Al Qur’an sehingga kemungkinan terjadinya kekeliruan bacaan bahkan penulisan (karena kesalahan penyalinan) sangat besar terjadi.  Jumlah sahabat-sahabat utama Rasulullah jelas tidak mencukupi untuk membanjiri kaum Muslimin sebagaimana di masa-masa awal perkembangan Islam dengan wilayah yang masih sempit.  Hal ini mengakibatkan kontrol terhadap keutuhan Al Qur’an menjadi sulit.

Melihat kondisi ini, khalifah Utsman lalu memerintahkan standardisasi Al-Qur’an secara besar-besaran.  Beliau menetapkan aturan rinci dan tegas mengenai Al Qur’an baik dari aturan penulisan, otorisasi penyalinan, perbanyakan mushaf bahkan cara baca.  Beliau mengumpulkan para juru tulis Rasulullah, istri-istri Rasulullah, para sahabat  dan para penghafal Al Qur’an untuk melakukan pemeriksaan akhir terhadap upaya standardisasi ini.  Ketika semuanya telah bersepakat maka diproduksilah tiga mushaf Al Qur’an yang saling identik yang harus menjadi acuan bagi perbanyakan Al Qur’an bagi seluruh kaum Muslimin.  Khalifah Utsman juga menetapkan cara baca Al Qur’an yang harus mengikuti cara baca Al Qur’an menurut bahasa Arab dialek Quraisy, dialek yang digunakan Rasulullah semasa hidup.  Setelah mushaf-mushaf Utsman ini selesai maka beliau memerintahkan agar semua mushaf ataupun salinan Al Qur’an apapun yang ada di masyarakat dihancurkan.

Mushaf Uthmani in Tashkent

Mushaf Utsmani di Tashkent

Ketiga Mushaf tadi satu disimpan di Madinah tempat kedudukan Khalifah dan dua lainnya dikirim ke Mesir dan Turkistan (sekarang wilayah Uzbekistan).  Sejak saat itu semua Al Qur’an yang ada hanya boleh diproduksi setelah melewati proses pemeriksaan mengenai kesesuaiannya dengan mushaf Utsmani ini.

    • Yngwie-San
    • Maret 22nd, 2011

    Mushaf Utsman yang ada percikan darahnya,yang tadinya berada di Germany,tapi setelah perang dunia II berada di museum di Inggris..

    • kang arif
    • Desember 23rd, 2011

    woi.. islam memang hebat,,, sejak awal hingga akhir

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: